Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dengan label Cermin

Kenangan Pahit dan Manis Bersamamu

Kenangan Pahit dan Manis Bersamamu Saat hari ini sibuk mengutak atik email, tiba-tiba malam itu notifikasi emaiku menunjukkan ada email baru yang masuk. "Dari siapa gerangan e-mail ini, koq alamat e-mailnya saya tidak kenal, ah spam barangkali" Gumamku. Tapi entah tiba-tiba jadi sangat penasaran dan dengan pelan kubuka email itu kemudian kubaca perlahan. Ah teringat  11 tahun lalu saat kenangan pahit dan manis bersamamu. Dear Abang Aku slalu nulis yg menyedihkan. Sekarang aku mo cerita betapa bahagianya aku pernah bersamamu. Pertama kali kumelihatmu di mesjid istiqlal tlg 23 agsts 97, kau terlihat gagah & smart. Tak pernah terpikir tuk menegurmu, apalagi menjadi pacarmu, tp kau menegur aku & tmnku saat keluar dr kmr mandi. Wah cowo yg td kuperhatikan, manis jg, tiba2 kau mendekat & minta no telp. Duh senengnya, tp hati tak berharap bnyk kau akan menelpon, pikirku ah...hanya iseng pengen tau no telp. Saat kau menelpon, kagetnya aku, Kau menelpon lama sekali, s...

Saudaraku, Usah Kau Lara Sendiri

"...Letakkanlah tanganmu di atas bahuku biar terbagi beban itu dan tegar dirimu di depan sana cahya kecil 'tuk memandu tak hilang arah kita berjalan menghadapinya ..." (Katon Bagaskara) Itu adalah penggalan lirik lagu Usah Kau Lara Sendiri,yang dipopulerkan oleh Katon Bagaskara & Ruth Sahanaya. Lagu itu terus menerus terngiang di kepala saya setiap menjelang peringatan hari AIDS sedunia, 1 Desember setiap tahunnya. Tepatnya sekitar tahun 1996, saat itu saya masih kelas 2 SMU di PERGIS Maros, dan saya baru saja bergabung dalam sebuah organisasi keremajaan di Kab. Maros (IRM). Usah Kau Lara Sendiri, mengalung merdu dari suara senior-senior saya dengan petikan gitar yang luar biasa dari Kanda Irdan AB.  Ya, di Gedung Wanita suasana temaram yang hanya disinari dengan cahaya lilin berkumpul elemen remaja dan pemuda Kab. Maros, mereka berusaha memahami suasana kebatinan saudara-saudara kita yang mendapatkan musibah dengan penyakit HIV/AIDS yang dideritanya. Malam ini, Usah...

Palem Merah bukan Palang Merah!

Subuh itu, Bontokapetta masih berkabut, udara dingin menembus tulang tapi keceriaan anak-anak menyambut subuh di awal ramadhan membuat suasana menjadi hangat. Menyambut subuh Ramdhan adalah saat yang dinanti-nanti oleh hampir semua masyarakat, khususnya anak muda, mereka memanfaatkan moment Subuh untuk bersosialisasi dengan teman-teman yang mungkin tidak setiap hari ketemu, khususnya remaja “Putrinya” heheheh..... Tempat favorite yang biasa kami gunakan untuk “Jalan-Jalan Subuh” adalah kompleks BALITTAN (sekarang:BALITSEREAL), lokasi itu berjarak sekitar 1 KM arah ke Barandasi. Subuh yang dingin itu, sy ditemani dengan 2 orang teman karib saya berbaur dengan anak muda lainnya dari berbagai wilayah sekitar BALITTAN, mulai dari Pammelakkang Je’ne, Bonto manai, Bonto maero’, Soreang, Kalumpang, Barandasi bahkan dari Maros Kota pun mungkin ada, saking ramainya Subuh itu. Saat itu saya lagi asik mengamati sekitar, jangan-jangan si “dia” lewat, hehehe.....Tiba-tiba salah seorang teman saya...

Mushallah Tua Itu..!

Saat itu, tahun 2008, saya masih dibebani tanggungjawab untuk mengurus bagian kemahasiswaan di tempat tugas saya. Salah satu rutinitas setiap tahun yang saya lakukan adalah melakukan pendataan lulusan yang berhasil lulus seleksi CPNS, dari hasil rekapan yang saya buat, sepintas terlihat pola yang menarik dari nama-nama yang lulus setiap tahun, khusunya alumni laki-laki, bahwa mereka yang pernah tinggal di Masjid semuanya telah lulus seleksi CPNS. Tinggal di Masjid? Ya, betul, tinggal dimasjid, sekitar 500 meter dari kampus tempat saya bekerja berdiri kokoh sebuah masjid yang diberi nama Masjid Al-Bustam, dalam kompleks Masjid terdapat sebuah kamar yang muat untuk 4 orang, entah sejak kapan, pengelola Masjid memberi kesempatan kepada mahasiswa untuk tinggal di kamar tersebut dengan catatan mereka harus aktif dalam kegiatan sehari-hari yang dilakukan oleh Masjid seperti Adzan, menyapu atau membersihkan lingkungan Masjid, yang terjadi adalah semua mahasiswa yang pernah tinggal di temp...

Jika Ingin Menulis Puisi, Jatuh Cintalah!

Malam ini, saya tiba-tiba teringat perkataan seorang kawan yang penyair; "ada dua hal yang membuat puisi dapat dengan mudah lahir, pertama saat jatuh cinta dan kedua saat patah hati." Ungkapan itu membuat saya rindu menulis puisi lagi. Namun ritme rutinitas keseharian saya begitu menyita waktu hingga tak menyisakan ruang untuk sekadar berkontemplasi. Realitas yang saya jalani pun rasanya tak menyodorkan romantisme yang perlu diabadikan. Saya seperti kehilangan enargi kreatif untuk meramu kata dan menyusun kalimat menjadi puisi. Padahal, dalam rentan waktu 1996 hingga 2006, puisi-puisi saya terpublikasi di media cetak lokal maupun nasional, diterbitkan dalam jurnal berkala, bahkan dibukukan. Kalau menulis puisi membutuhkan sebuah stimulan, inilah yang nampaknya tak hinggap dalam ruang imajinasi saya selama ini. Kata-kata menguap begitu saja dalam benak saya. Tak ada yang sempat terabadikan. Peristiwa-peristiwa berlalu begitu saja tanpa mampu kurekam secara gramatik. ...