Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari November, 2011

Di Ufuk Barat Sana

Di Ufuk Barat Sana Mataku tertuju pada senja di ufuk barat sana, rerumputan menyapaku dengan asyiknya dan berkata mestikah gelisah dan rindunya buatmu sementara ia telah berkelana dengan waktu yang tak berujung dengan seorang gadis yang mungkin saja akan memelihara ruang rindunya pada satu bilik hatinya bagian kanan, posisi yang strategis dan tak mungkin kau mengguggatnya dengan sebuah gelimang harta dan bahkan keperempuanmu pun tak mampu memasuki ruang itu. Pelangi itu menawarkan warna yang indah, sejenak memberiku arti dari wacana yang menyatakan: “ Andi, seddi elo kuparinggerakki, Tania doi ditiwi rewe lao puang Allah ’ta’ala ”, (Bukan harta yang kita bawa mati, menghadap ke Allah SWT)”  “ Tania jabatan ditiwi lao lisu dipunna lino ” (Bukan jabatan yang kita bawa menghadap ke Sang Pemilik Bumi) “ Tapi iyaro ditiwi ede iyamiro ammalang .”.(Tapi, yang di bawa ke hadapan Allah SWT adalah amal jariyah ketika kita setelah meninggal. Harta d...

Saudaraku, Usah Kau Lara Sendiri

"...Letakkanlah tanganmu di atas bahuku biar terbagi beban itu dan tegar dirimu di depan sana cahya kecil 'tuk memandu tak hilang arah kita berjalan menghadapinya ..." (Katon Bagaskara) Itu adalah penggalan lirik lagu Usah Kau Lara Sendiri,yang dipopulerkan oleh Katon Bagaskara & Ruth Sahanaya. Lagu itu terus menerus terngiang di kepala saya setiap menjelang peringatan hari AIDS sedunia, 1 Desember setiap tahunnya. Tepatnya sekitar tahun 1996, saat itu saya masih kelas 2 SMU di PERGIS Maros, dan saya baru saja bergabung dalam sebuah organisasi keremajaan di Kab. Maros (IRM). Usah Kau Lara Sendiri, mengalung merdu dari suara senior-senior saya dengan petikan gitar yang luar biasa dari Kanda Irdan AB.  Ya, di Gedung Wanita suasana temaram yang hanya disinari dengan cahaya lilin berkumpul elemen remaja dan pemuda Kab. Maros, mereka berusaha memahami suasana kebatinan saudara-saudara kita yang mendapatkan musibah dengan penyakit HIV/AIDS yang dideritanya. Malam ini, Usah...

Pengembangan Diri Siswa Melalui Internet

Baca saja di sini:  Pengembangan Diri Siswa Melalui Internet

Aku Tersenyum Lagi

Aku kira selama ini bumi tegah berhenti berputar... Jiwa hancur berkeping-keping dan tak sanggup tuk berdiri lagi... Aku pikir selama ini ruang hati tertutup sudah... Tanpa ada yang mampu menyentuh... Tapi ternyata semua berakhir... Persembunyian hati ini... Meskipun waktu lambat bicara... Kubukakan hati, perlahan namun pasti... Karna Kau yakinkan diriku... Hanya Kau yang mampu sentuh hatiku...   Bumi berputar kini... Aku tersenyum lagi   by Wiwiek Dwi on Saturday, December 26, 2009    

Ke Mana Arah Pendidikan Indonesia?

Berbicara tentang pendidikan tentu tidak dapat dipisahkan dari Manusia. Karena manusia memiliki potensi yang dapat di rubah dan dikembangkan melalui pendidikan.  Berdasarkan Pengertian pendidikan , maka Target dari pendidikan adalah untuk merubah anasir-anasir yang bersumber dari hal-hal yang metafisik untuk kemudian dimanifestasikan dalam rangka penguasaan Ilmu Pengetauan dan Tekhnologi. Dengan demikian maka pendidikan harus ditelaah dari “asal mula” sampai pada “tujuan akhir”.  Pendidikan memiliki peran yang sangat strategis dalam rangka manusia melewati “perjalanan” tersebut sehingga tidak lepas dari dimensi kefilsafatan (Kebenaran). Jika tidak maka proses pendidikan tentu akan jauh dari nilai-nilai filosofisnya. Satu hal yang kami garis bawahi, bahwa kecenderungan terjadinya penyimpangan dari “perjalanan” dari asal mula sampai tujuan akhir menghasilkan nilai yang jauh dari nilai filosofisnya, sesungguhnya tidak berada pada jargon-jargon subtansial. Akan tetapi terjadi pa...

Pecinta Buta

Sufi, Cinta, Tuhan Siapa aku sebenarnya...? benarkah aku mencinta-Mu? sementara, syairku bukan menyampaikan ayat-ayat-Mu lantunan firman-Mu bahkan tak menggetarkan jiwaku dan sedikitpun tak meninggalkan bekas dalam nuraniku adakah aku seorang pecinta sejati? jika aku tak pernah rindu bertemu dengan-Mu karena setitik bahagia membuatku lupa kepada-Mu dan bahkan tak menjadikan-Mu satu-satunya penolongku aku ini siapa...? aku tak lebih dari seorang pecinta buta yang tak pernah kuasa menjamah kekasihnya sang pencinta tapi ingkar pada anugrah-Nya Aku lalai pada Cinta-Mu ..... TUHAN

Bandara Saksi Bisu

Menyambut fajar dengan butiran kristal ke arah timur engkau terbang bersama kenangan ingin rasanya menitip pesan pada camar bahwa kuingin engkau tetap disisiku tapi tak mungkin bandara terpaksa menjadi bisu menatapmu Kapan berujar untuk menitip pesan bahwa engkau pergi untuk kembali sejak malam itu tanda perpisahan ternyata ..... sepucuk kenangan kau titip untuk menulis sejarah kau dan impiam.... merampas hak dan realitasku elegi di Bandara kini sekadar memory karena waktu memfonisku untuk tak bersua 

Pembentukan Karakter Disiplin dalam Pembelajaran

Disiplin A. Pendahuluan Proses pembelajaran bukan hanya berada pada lingkungan formal, tentu kita sepakat hal tersebut. dan bukan hanya pada ruang kelas sehingga banyak ruang dan waktu  dapat dimanfaatkan dalam belajar.  Salah satu cara atau strategi seorang guru agar peserta didiknya tetap belajar di rumah pada saat pulang sekolah yaitu pemberian tugas. Pemberian tugas di rumah menjadi suatu beban yang dirasakan oleh seorang peserta didik disamping kesibukannya bermain, tetapi tidak semua peserta didik seperti itu tentunya, bahkan ada juga peserta didik yang merasa bahwa pekerjaan rumah atau tugas kelompok sangat dibutuhkan oleh mereka. paling tidak bisa keluar dari beban rumah yang mungkin menurutnya adalah beban rumah tangga yang belum seharusnya dikerjakan oleh seorang anak kecil yang masih sekolah. padahal sudah jelas bahwa pekerjaan tersebut adalah proses belajar juga. Pekerjaan rumah adalah pemberian tugas yang sampai detik ini kami rasa adalah suatu pemberosan, k...

Mencintaimu Tidak dalam Kata-Kata

bait apa lagi yang perlu kulafazkan jika tak lagi mengiang dipendengaranmu meski fasih kudendangkan tak juga jadi kebenaran untukmu perlukah kudaras berulang ulang seperti apa yang engkau mau sementara kadang terdengar samar ditelingaku hingga aku alpa mengejanya cukupkanlah hati yang membacanya jangan sampai akal membolakbaliknya hingga aku dan engkau tak mahfum karena semuanya hanya untukmu sungguh aku mencintaimu tidak dalam kata-kata by Uak Sena on Saturday, November 12, 2011

Palem Merah bukan Palang Merah!

Subuh itu, Bontokapetta masih berkabut, udara dingin menembus tulang tapi keceriaan anak-anak menyambut subuh di awal ramadhan membuat suasana menjadi hangat. Menyambut subuh Ramdhan adalah saat yang dinanti-nanti oleh hampir semua masyarakat, khususnya anak muda, mereka memanfaatkan moment Subuh untuk bersosialisasi dengan teman-teman yang mungkin tidak setiap hari ketemu, khususnya remaja “Putrinya” heheheh..... Tempat favorite yang biasa kami gunakan untuk “Jalan-Jalan Subuh” adalah kompleks BALITTAN (sekarang:BALITSEREAL), lokasi itu berjarak sekitar 1 KM arah ke Barandasi. Subuh yang dingin itu, sy ditemani dengan 2 orang teman karib saya berbaur dengan anak muda lainnya dari berbagai wilayah sekitar BALITTAN, mulai dari Pammelakkang Je’ne, Bonto manai, Bonto maero’, Soreang, Kalumpang, Barandasi bahkan dari Maros Kota pun mungkin ada, saking ramainya Subuh itu. Saat itu saya lagi asik mengamati sekitar, jangan-jangan si “dia” lewat, hehehe.....Tiba-tiba salah seorang teman saya...

Pinisi Cinta

Dari jauh terdengar kalimat bahwa kerap manusia itu berubah, seiring waktu berjalan Kutemukan beberapa sajak yang telah luntah karena telah usang dimakan debu dan hanyut terseret gelombang. Makna filosofinya tak lagi mampu untuk menjadi lantunan syair tengah malam dan tak akan ada lagi semiotik yang dapat diterjemahkan oleh gemintang sebab ampas rokok tertelan bara apinya. Darimana lagi dapat ditemukan ukiran semahal itu bahkan tak dapat dinilai dengan rupiah karena benda bukanlah benda dan ia abstrak. Ini menjadi fenomena alam yang tak dapat diterjemahkan dalam kamus apapun juga. Secercah harapan dan hajat yang tak lagi mampu untuk diresapi apa arti dari semua pengorbanan karena pengorbanan itu sendiri telah terhempas dalam gemuruh bara dan badai yang entah dari mana datangnya. Wacana di atas menggugah Haikal untuk berkontemplasi dengan jiwanya untuk menemukan satu titik di mana dan ke mana perjalanan romantisme yang hampir setahun ia rasakan akan sandar sebab lagi-lagi pelabuhan y...

Ku Tukar Isak Tangisku dengan Sure' Pappikatu

Terpaku dalam sepi, ombak menerawang dalam riangnya ke sana kemari, tanpa beban, tanpa rasa oleng, kadang karangpun menjadi penghalang bagi ombak yang berlabuh tapi ombak itu tetap dengan pendiriannya, walau kapal dan karang tak jua menyurutkan ia untuk berenang dan mengalir dalam riangnya. Berlalu dengan dekap yang tak henti, masa demi masa pasti berlalu, tetapi gelisah menuang dalam secarik kertas dengan tinta hitam yang tak lagi membicarakan tentang rindu, kangen apalagi berbicara tentang kita. Naif, memang ketika itu dinikmati dalam sepi apalagi mesti ditukar dengan sakit yang mendahsyat. Ingin berlari dari waktu yang kian menjebak, tapi tak mampu dengan beberapa paras wajah dengan bibir mungil itu. Sudah beberapa warsa tak memberi coment, pegal jua jemariku memencet tombol dengan asa bahwa suatu saat nanti engkau mau membacanya apalagi menikmatinya dengan secangkir susu dan oreo, tapi itu impasibble, yah mustahil sebab telah kau tukar torabikaku dengan teh pahit dan hambar. D...

Suatu Senja di Warkop

Di penghujung senja ini kau memberiku warta tentang berlabuhnya dirimu Hujan tadi kabar dan sekaligus wejangan semiotik darimu bahwa telah kau cermati kata demi kata hatimu senja di bantaran sungai ini wartamu melalui musik poliponik bahwa engkau telah berlabuh di ujung pantai losari sebelah barat dengan membawa kalimat-kalimat impian Senja di Butta salewangang Wartamu mencabik naluriku untuk berlari di hamparan laut untuk menghetikan sekoci di Pulau Barrang Lompo agar kata dan kalimat itu mesti kau analisa dengan bijak

Indonesia Bangsa Besar, Bangsa yang Menghargai Pahlawan

Dalam peringatan Hari Pahlawan, 10 Nopember 2011 lalu, Presiden Republik Indonesia Susilo Bambang Yudhoyono memberi gelar Pahlawan Nasional kepada tujuh orang tokoh. Ketujuh orang tokoh itu, yakni;   Idham Chalid, mantan Ketua Umum Nahdlatul Ulama (NU), mantan Ketua Partai Masyumi, pendiri dan mantan Ketua Partai NU dan pendiri dan mantan Partai Persatuan Pembangunan (PPP) dan mantan Ketua DPR RI.   Abdul Malik Karim Amrullah atau yang dikenal dengan Buya Hamka, ulama besar yang juga dikenal sebagai pemimpin Muhammadiyah, seorang penulis (salah satunya, novel yang sudah difilmkan; Di Bawah Lindungan Kabah) dan aktivis.   Sri Susuhan Paku Buwono X, raja Kasunanan Surakarta tahun 1893-1939.   I Gusti Ketut Pudja, ikut serta dalam perumusan negara Indonesia, hadir dalam perumusan naskah teks proklamasi, dan mantan Gubernur Sunda Kecil. Ignatius Joseph Kasimo Hendrowahyono, pendiri Partai Katolik Indonesia, ikut bergerilya di Jawa Tengah dan Jawa ...

Puisi Pendek: Imajinasi

"Imajinasi" Bahasa bukanlah pengertian,  sebelum  kau mengenal hutan liar yang bermain dikepalamu dalam setiap kata, lihatlah di setiap lekuk, bait dan iramanya,  ia adalah cinta yang kita telan atau kawah yang kita muntahkan, karena rindunya adalah lejit panah yang hampir menancap : kepadamu atau kepadaku.....

Mushallah Tua Itu..!

Saat itu, tahun 2008, saya masih dibebani tanggungjawab untuk mengurus bagian kemahasiswaan di tempat tugas saya. Salah satu rutinitas setiap tahun yang saya lakukan adalah melakukan pendataan lulusan yang berhasil lulus seleksi CPNS, dari hasil rekapan yang saya buat, sepintas terlihat pola yang menarik dari nama-nama yang lulus setiap tahun, khusunya alumni laki-laki, bahwa mereka yang pernah tinggal di Masjid semuanya telah lulus seleksi CPNS. Tinggal di Masjid? Ya, betul, tinggal dimasjid, sekitar 500 meter dari kampus tempat saya bekerja berdiri kokoh sebuah masjid yang diberi nama Masjid Al-Bustam, dalam kompleks Masjid terdapat sebuah kamar yang muat untuk 4 orang, entah sejak kapan, pengelola Masjid memberi kesempatan kepada mahasiswa untuk tinggal di kamar tersebut dengan catatan mereka harus aktif dalam kegiatan sehari-hari yang dilakukan oleh Masjid seperti Adzan, menyapu atau membersihkan lingkungan Masjid, yang terjadi adalah semua mahasiswa yang pernah tinggal di temp...

Sebuah Situs di "Leang Burung" dan Penambang Marmer di Maros

"Arkeolog berkebangsaan Australia  yang sejak tahun 1970, telah melakukan penelitian di situs tersebut, mengaku sangat prihatin terhadap tindakan semakin dekatnya pekerja /penambang marmer dari situs yang ditelitinya, padahal ia tahu bahwa tempat penambang tersebut adalah daerah terlarang sebab dekatnya dgn situs,  "Suara -suara keprihatinan akan disampaikan kepada BLHD Kabupaten, dan Dinas Pertambangan ." katanya. Dalam kecemasan terhadap peristiwa tersebut, saat bincang bincang dengan komunitas  "Pemerhati Lingkungan Hidup", sang peneliti tersebut menunjukkan beberapa foto yang diambil tanggal 4 november 2011, terkait dekatnya penambang marmer dengan situs yang ditelitinyan sejak 30 tahun lalu, Arkeolog yang mengabdikan diri pada penyelidikan di "situs di Leang Burung tersebut", menuai dukungan dari komunitas Pemerhati Lingkungan Hidup tasb, dan  sebagai ungkapan atau tanggapan ,"peninjauan kembali ijin tambang Kalau boleh kam...

Sepi Siapa?

Sepi siapa melesatkan panah, sebuah      jantung tertembus, tetestetes darah menahan laju detak jam,      Uh…3,4,5 nganga sepi, nganga pada jalan setapak,  nganga pada bangku taman, nganga pada sudut bumi uh, kau harus pulang sayang …, dengan kejut yang kau bawa serta, tentu pada      kejut anak panah yang kesekian kali…, Sepi siapa atau : "kita"? ___________________________.  Diposkan oleh K aimuddin Mabbaco

Duh, Matamu Say

kukira bola salju yang menggelinding, ah sudahlah...   :Aku terlindas sajalah atau  tercebur di beningnya,  di matamu : ku menyempit dan purba  di-tatapmu aku  tinggal diam, dan tawar, berhentilah....ditatapmu ku tergantung tinggi meng-awan ----------------------------------------------------- Maros "senja yang kukira matamu" Diposkan oleh Kaimuddin Mabbaco  

Semakin Menulismu

       "Tulis saja sesuatu yang kau kenali pun yang tak kau kenali", sebab         waktu di sinipun benar-benar petang dan kau tak rindu sedikitpun, di sini..,pada hawa di puncak ketinggian ini, uihh..benar-benar bau langit, abu-abu juga kebiru-biruan, :sebuah adrenalin yang kurindu, dan dunia bawah itu ya...          sebuah dunia hura-hura dan tanpa kendali, sangat ramai...          setelah ini, tak ada lagi apa-apa kecuali, melayang dan terjatuh,          kumenulisnya sebagai "terjatuh untuk sebuah kesenangan". Ketika ku menangkapmu di ceruk mataku, sebuah sepatu kets dan wajah di jendela yang sangat kukenali, awaass.... seperti inilah bumi selalu kurindu, menatapnya dari ketinggian, dan kuterjatuh ...........          Ah....aku tak pernah menjadi apapun kacuali harus te...

Jika Ingin Menulis Puisi, Jatuh Cintalah!

Malam ini, saya tiba-tiba teringat perkataan seorang kawan yang penyair; "ada dua hal yang membuat puisi dapat dengan mudah lahir, pertama saat jatuh cinta dan kedua saat patah hati." Ungkapan itu membuat saya rindu menulis puisi lagi. Namun ritme rutinitas keseharian saya begitu menyita waktu hingga tak menyisakan ruang untuk sekadar berkontemplasi. Realitas yang saya jalani pun rasanya tak menyodorkan romantisme yang perlu diabadikan. Saya seperti kehilangan enargi kreatif untuk meramu kata dan menyusun kalimat menjadi puisi. Padahal, dalam rentan waktu 1996 hingga 2006, puisi-puisi saya terpublikasi di media cetak lokal maupun nasional, diterbitkan dalam jurnal berkala, bahkan dibukukan. Kalau menulis puisi membutuhkan sebuah stimulan, inilah yang nampaknya tak hinggap dalam ruang imajinasi saya selama ini. Kata-kata menguap begitu saja dalam benak saya. Tak ada yang sempat terabadikan. Peristiwa-peristiwa berlalu begitu saja tanpa mampu kurekam secara gramatik. ...

Ayah, Ijinkan Aku

Ayah Maafkan aku jika menulis hal ini lagi Menggambarkan perasaanku lagi Mempertanyakan keadaanmu disana lagi Ayah Aku tak pernah tahu akan rahasiaNya Semua berlalu dan terjadi sesuai skenarioNya Dan aku hanya menikmati sambil menumpukkan banyak tanya Apakah kita akan bertemu disana? Tempat yang kini didalamnya engkau sudah bahagia Ayah Coba sejenak lihat aku Bertumbuh seperti inginmu Meski kini tak dilihat matamu Tak dirasa hatimu Aku tahu kalau ayah bersamaku Ayah Ijinkan aku Meniti setiap mimpi yang kutahu itu mustahil Tetapi aku mencoba untuk terus berhasil Ayah Ijinkan aku Mencium kaki dan tanganmu Disaat aku benar-benar merindu Rindu yang menyesakkan kalbu Sebab raga ingin sekali bertemu Ayah Ijinkan aku... Mencintaimu selalu...

Nyanyian Rindu Sang Petualang

Sepoi Sejuk Senandung membiru Menemani langkah seolah tak sama Namun tetap mencari rasa Wahai jiwa yang disana Aku terus berjalan meniti waktu yang terus bergulir Sementara semuanya masih tertidur Dan aku masih terus berjalan Wahai jiwa yang sedang duka Lihatlah jejak-jejak kakiku Adakah duka menyelimutinya? Ataukah hanya cinta yang terus menyemai? Wahai jiwa yang sedang suka Aku disini berdendang Menanti waktu itu datang Hanya untuk bertandang Dan berkata dengan lantang "Aku rindu padamu"

Adrenalin Penulis Muda

Menulis bagi sebagian orang menjadi satu pekerjaan yang rumit, tentu dengan alasan tak semudah jika berbicara. selain itu juga menulis dianggap sebagai keterampilan khusus yang hanya dimiliki oleh orang orang tertentu saja.  Berbagai macam alasan yang memeang terkesan menjadikan pekerjaan menulis itu sebagai pekerjaan yang sangat rumit. Dari beberapa orang hal tersulit dari menulis adalah pada saat akan memulai sebuah tulisan, mulai dari mana dan berakhir di mana. Berbagai kendala tersebut lalu mengilhami kami untuk mengumpul beberapa tulisan dari penulis pemula, bahwa sesungguhnya menulis bukanlah harus mencapai titik dimana tulisan kita harus disukai dan disenangi semua orang, atau bahakan menulis harus di terbitkan dalam sebuah buku.  Jika itu cita-cita akhir dari kegiatan menulis, maka saya kira tak ada satupun orang yang akan memulai menulis. Padahal sesungguhnya menulis itu pada hakikatnya adalah menyampaikan ide dan gagasan kita besar atau kecil dalam bentuk tulisan....